Sabtu, Juli 27th, 2019

N Nasional

Gunung Tangkuban Parahu Alami Erupsi, Inilah Sejarahnya

,

Audit Pos, Jakarta – Gunung Tangkuban Parahu yang terletak diwilayah Jawa Barat, mengalami erupsi pada Jum’at ( 26/07/2019 ) sekitar pukul 15.48 WIB, dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak ( ± 2.284 m di atas permukaan laut ). Berdasarkan sejarah, gunung api ini tidak pernah menunjukkan erupsi magmatik besar, kecuali erupsi abu tanpa diikuti oleh leleran lava, awan panas ataupun lontaran batu pijar.

Dilansir di laman Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, pada Jum’at ( 26/07) dijelaskan, erupsi Tangkuban Parahu dicirikan oleh erupsi eksplosif berintensitas kecil dan kadang – kadang diselingi oleh erupsi freatik dengan jarak antar letusan berkisar antara 2 hingga 50 tahun.

Menurut van Bemmelen ( 1934, dalam Kusumadinata 1979 ), Gunung Tangkuban Parahu tumbuh di dalam Kaldera Sunda sebelah timur. Berdasarkan coraknya, erupsi gunung tersebut dapat dibagi tiga fasa.

Pertama, Fasa eksplosif yang menghasilkan piroklastik dan mengakibatkan terjadinya lahar. Kedua, fasa efusif yang menghasilkan banyak aliran lava berkomposisi andesit basaltis. Ketiga, fasa pembentukan atau pertumbuhan Tangkuban Parahu sekarang umumnya eksplosif kecil-kecil dan kadang diselingi erupsi freatik.

Erupsi Gunung Tangkuban Parahu dapat digolongkan sebagai erupsi kecil. Leleran lava diperkirakan kemungkinannya terjadi. Berdasarkan pengalaman sejak abad ke 19, gunung api ini tidak pernah menunjukkan erupsi magmatik besar kecuali erupsi abu tanpa diikuti oleh leleran lava, awan panas ataupun lontaran batu pijar.

Erupsi freatik umumnya dominan dan biasanya diikuti oleh peningkatan suhu solfatara dan fumarola di beberapa kawah yang aktif yaitu Kawah Ratu, Kawah Baru, dan Kawah Domas. Material vulkanik yang dilontarkan umumnya abu yang sebarannya terbatas di sekitar daerah puncak hingga beberapa kilometer.

Semburan lumpur hanya terbatas di daerah sekitar kawah. Pada waktu peningkatan kegiatan, asap putih fumarola atau solfatara kadang-kadang diikuti oleh peningkatan gas-gas vulkanik seperti gas racun CO dan CO2.

Bila akumulasi gas – gas racun di sekitar kawah aktif semakin tinggi, daerahnya dapat diklasifikasikan ke dalam daerah bahaya primer terbatas. Bahaya sekunder seperti banjir lahar tidak pernah terjadi sepanjang sejarah. Longsoran lokal terjadi di dalam kawah dan lereng atas yang terjal.

Adapun untuk Sejarah erupsinya dapat diuraikan sebagai berikut :

  • 1829 Erupsi abu dan batu dari Kawah Ratu dan Domas.
  • Tahun 1846 Terjadi erupsi, peningkatan kegiatan.
  • Tahun 1896 Terbentuk fumarol baru di sebelah utara kawah Badak.
  • Tahun 1900 Erupsi uap dari Kawah Ratu.
  • Tahun 1910 Kolom asap membubung setinggi 2 km di atas dinding kawah, erupsi berasal dari Kawah Ratu.
  • Tahun 1926 Erupsi freatik di Kawah Ratu membentuk lubang Ecoma.
  • Tahun 1935 Lapangan fumarol baru disebut Badak terjadi, 150 m ke arah selatan baratdaya dari Kawah Ratu.
  • Tahun 1952 Erupsi abu didahului oleh erupsi hidrothermal (freatik).
  • Tahun 1957 Erupsi freatik di Kawah Ratu, terbentuk lubang kawah baru.
  • Tahun 1961,1965, dan 1967 Erupsi freatik.
  • Tahun 1969 dan tahun 1971 Erupsi freatik didahului oleh erupsi lemah menghasilkan abu.
  • Tahun 1983 Erupsi freatik.
  • Tahun 1992 Awan abu membubung setinggi 159 m di atas Kawah ratu.
  • Tahun 1994 Peningkatan kegiatan kuat dengan gempa seismik dangkal dengan erupsi freatik kecil.
  • Tahun 2004 Peningkatan kegempaan.
  • Tahun 2005 Peningkatan aktivitas kegempaan.
  • Tahun 2006 Peningkatan aktivitas kegempaan.
  • Tahun 2013 beberapa kali terjadi peningkatan aktivitas pada Februari, Maret, dan Oktober. Terjadi 11 kali letusan freatik selama 4 hari ( 5-10 Oktober ).
  • Tahun 2019 Erupsi dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 200 meter di atas puncak. (Red)

( Sumber : Republika Online )

Berita Terkait

Polling

Manakah berita regional teraktif?